Sabtu, 12 November 2016

SURAT TERBUKA UNTUK KAMU; Yang Pernah Singgah Di Hatiku



Hari minggu ini masih setia datang tepat pada waktunya dengan setiap keindahannya. Tapi selama beberapa minggu sejak kau tidak ada kabar lagi, tak ada satu hal pun yang berubah. Aktivitasku masih sama seperti saat kamu masih disini bersamaku. Hanya saja tak ada ucapan selamat pagi lagi darimu saat pagi datang menjemput. Tak ada lagi SMS singkat darimu saat datangnya makan siang. Tak ada lagi BBM darimu saat aku sedang bekerja sekedar mengucapkan “Have a good day!”. Tak ada lagi tawa renyah kita saat bercerita lucu ketika berjumpa. Dan tak ada lagi senyum yang selalu aku lihat ketika kita berpisah diujung lorong di depan kost ku.
Aku menulis surat ini bukan karena aku merindukanmu atau mengharapkan kamu datang kembali. Kamu tahu? Rinduku sudah pergi entah kemana, pergi tak berjejak. Harapan-harapan yang pernah kita ciptakan bersama entah terbang kemana. Rasa yang pernah meluap juga sudah menghilang begitu saja. Hatiku sudah jauh lebih damai. Mataku sudah terbiasa tanpa memandangmu. Telingaku sudah nyaman tanpa suaramu. Bibirku sudah tak tertarik menyebut namamu. Kamu tahu itu artinya apa? Hidupku jauh sudah lebih bahagia tanpa kehadiranmu.
Dan karena itu, aku ingin mengucapkan rasa terima kasih padamu. Terima kasih atas segala bahagia yang pernah kau berikan untukku, atas setiap hari yang pernah aku lalui bersamamu, atas tawa yang pernah kita ciptakan di setiap kebersamaan kita, atas perhatianmu yang selalu kau berikan untukku dan terima kasih sudah pernah menawarkan masa depan padaku. Tak ada sedikitpun rasa menyesal pernah bertemu denganmu.
Hidupmu mungkin saja lebih baik tanpaku, karena tak ada lagi yang mengingatkanmu untuk ini dan itu. Tapi hidupku jauh lebih bahagia tanpamu karena tak ada lagi lelaki yang menawarkan kebahagiaan semu padaku. Dan hai kamu lelaki maniak gym, sekali lagi aku ingin berterima kasih. Kedatanganmu di hidupku sudah merubah persepsiku tentang laki-laki. Kepergianmu di hidupku juga suda mengajarkanku banyak hal, terutama tentang tanggung jawab, komitmen dan sebuah konsistensi. Terima kasih sudah membuatku tertawa dan menangis, telah memperlakukanku seperti sorang putri raja, menjagaku dengan penuh rasa sabar, terima kasih sudah selalui ada di setiap aku membutuhkanmu, terima kasih sudah memilihkan jalan ini untuk aku jalani, sudah memberikanku  kesempatan untuk mendapatklan cinta yang lebih besar, terima kasih sudah memberiku pengalaman berharga yang bisa aku ceritakan pada anak laki-lakiku nanti tentang bagaimana harusnya seorang lelaki bersikap.
Aku tak pernah mendoakan hal-hal yang buruk terjadi di hidupmu. Berbahagialah. Semoga kau mendapatkan sosok wanita yang bisa menyeimbangkan hidupmu, yang bisa menyesuaikan sikapmu, yang cintanya lebih besar dariku, yang bisa menerima kamu apa adanya. Satu pesanku untukmu, andai saja kita nanti bertemu di jalan, kamu tak harus berpura-pura tidak mengenaliku, sunggingkan senyumanmu untukku tanpa ada rasa bersalah. Dan akupun juga begitu.


 Salam,
Dari aku yang sudah bahagia

Jumat, 20 Mei 2016

Aku Pergi



Setelah percaya bahwa tak ada satu daun pun yang jatuh yang luput dari kesaksian Allah, akhirnya aku memahami bahwa semua yang terjadi sejatinya memang sudah diatur. Segalanya terjadi pada kesempatan yang tepat. Tidak pernah terlalu cepat, tidak pernah terlalu lambat. Begitupun saat dulu kita bertemu untuk pertama kalinya, aku yakin bahwa Allah telah mengaturnya sedemikian rupa.

Dulu kita hanya saling tahu nama dan rupa, tanpa pernah saling bertukar sapa dan bertatap wajah. Kita seperti dua buah kapal laut yang mengarungi laut yang sama, tapi tak pernah saling mendengar suara. Begitu seterusnya sampai waktu mengantarkan kita mendewasa, dan pada akhirnya saling sapa. Sapa yang kemudian mendatangkan rasa. Apa namanya? Cinta? Ah, terserahmulah!

Bagaimanapun juga, aku adalah seorang perempuan. Hatiku rentan tertawan, dan kamu memang menawan. Aku kemudian lupa pada logika. Lama-kelamaan, diantara obrolan-obrolan panjang, terselip perkataan-perkataan yang belum seharusnya dikatakan.

Pada sebuah titik balik, akhirnya aku disampaikan Allah pada suatu tempat bernama kesadaran. Hey, kita melakukan apa selama ini?

Aku sadar, bukan ini yang seharusnya kita jalani. Aku berpikir dan menghabiskan waktu yang lama untuk mengumpulkan keberanian. Sudah kubilang, perempuan itu rentan. Ah, salah kita memang yang menjadikan semua ini seperti kebiasaan yang begitu terkondisi. Seperti poros yang bergerak dengan cepat, kita pun menjadi sulit untuk melompat keluar. Tapi, akhirnya aku memilih untuk benar-benar melompat, meski jatuh!

Sekarang, dengarkanlah!

Aku pergi bukan karena benci, atau sok suci. Aku hanya ingin menyelamatkanmu. Allah memberi kita satu hati yang istimewa. Aku tak ingin kita mengotorinya dengan rasa-rasa tak bernama yang belum pantas kita bagi sekarang.

Aku pergi bukan karena benci, atau sok suci. Aku bukan tak ingin memilihmu. Tapi, aku tak ingin melakukannya sekarang. Aku tak ingin membuat keputusan-keputusan permanen di saat-saat yang belum seharusnya. Aku ingin memutuskannya nanti saja, agar Allah mencatatnya menjadi halal yang membuahkan kebaikan-kebaikan.

Aku pergi bukan karena benci, atau sok suci. Aku hanya ingin menunggu dalam ketaatan, hingga nanti sampai pada ikatan suci.

Semoga Allah memaafkan kita yang sempat khilaf dan sok tau menentukan arahan sendiri.

Bagiku, penghargaan terbaik adalah ketika dipahami tanpa dihakimi. Terimakasih telah mencoba mengerti sampai akhirnya memahami. Semoga Allah menjadikan kita mampu menunggu dalam taat. Satu yang tak pernah kita tahu, kita tak pernah tahu dengan siapa kita akan hidup berdampingan. Karenanya, taat dan bersiaplah karena Allah, bukan karena aku.

Senin, 02 Mei 2016

Kau Tak Sendiri



Siapa kira apa yang tampak oleh mata mampu membutakan hingga kita lupa bahwa semua itu hanya sementara. Siapa kira yang tampak saat ini justru bisa diambil sewaktu-waktu atau akan bertambah nilai baiknya suatu hari nanti. Manusia memang cenderung mengumpat apa yang tampak buruk dari suatu musibah atau ketika takdirnya lebih buruk dari orang lain.

Pernahkah kau merasa ketika Tuhan berbicara padamu? Rasa malu seakan menjalar ke setiap inci tubuhmu, mengikat tanpa terlewat. Ingin rasanya bersembunyi dari tatapan-Nya tapi kau tak kuasa melakukan itu. Saat itu Dia tengah berkata, “Aku tak pernah berhenti melihatmu, aku bahkan selalu mengutamakan kebaikanmu. Tak sadarkah?” Sejenak matamu akan berembun, kemudian aliran beningnya luluh melewati pipi. Lalu Dia berkata lagi, “Ingatkah kau dengan mimpi yang tak pernah kau katakan? Aku mendengar suara hatimu. Aku ingat semua mimpi yang tak pernah sering kau rapal dalam doa.”

Sejenak waktu membawamu berkunjung kepada masa lalu, dimana saat itu kau menyaksikan seseorang yang menarik perhatianmu lalu kau kagumi. Tanpa sadar hatimu berbisik ingin mengikuti jejaknya, ingin mewujudkan keinginan paling besarmu seperti dia. Dalam bisikan yang tak pernah diketahui siapapun kau seakan berdoa. Kau lupa, kemudian presepsimu menemui kesalahan, bahwa Dia Yang Maha Tau ternyata sangat pandai membaca isi hati. Dan Dia adalah pengingat paling ahli. Matamu mengembun lagi di dinding-dinding lapisan terluar matamu, tanpa pernah diluluhkan oleh kelopak mata.

Kalimat Tuhan membelai lembut gendang telingamu lagi, “Aku telah merencanakan sesuatu demi kebaikanmu dan juga mimpimu. Mari genggamlah tangan-Ku kemudian melewati masa sulit ini. Selalu ada cahaya yang terang setelah gelap usai, selalu ada pelangi indah setelah hujan badai.” Kali ini kesadaran seolah menyambung kembali urat malumu menjadi sempurna, dijahit dengan begitu teliti. Wajahmu terbenam oleh air mata. Ingin rasanya kau memeluk Dia yang tak pernah kau lihat seperti apa, tapi ada lebih dekat dari urat nadimu sendiri. Nyatanya semua masa sulit dan bahagia yang telah terlewat dulu adalah masa yang mengantarkanmu menuju masa dimana kau berdiri saat ini.

Minggu, 24 April 2016

Rindu Dan Hujan



Sore ini tanah kembali basah, ada wangi-wangi tanah yang kusuka saat turunnya hujan. Wangi yang syahdu, aku ingin merasakan wangi itu lebih dekat agar benar-benar terhirup semuanya tanpa ada yang tersisa. Eh, tapi jangan pernah jadi orang yang rakus, hidupnya nanti tak akan bahagia. Hirup saja sebisamu, sedekat jarakmu berada sekarang, nikmati yang menjadi kehendak Tuhan atas wangi yang diberikan. Hayati masuknya udara kedalam hidung. Wangi tanah.

Tuntaslah rindu tanah pada hujan setelah berbulan-bulan melakukan pendekatan pada awan. Sore ini, hujan kembali turun dengan tabah dan memesona. Terjatuh dari ketinggian, menyapa tanah dengan anggunnya, lalu mengalir mengikuti kaidah gravitasi ke tempat yang rendah. Aku suka wanginya, aku suka hujannya. Jangan pikir awan dengan mudah memberi hujan izin turun kebawah, melepaskan rindu pada sang tanah yang mengalami kekeringan, yang karenanya banyak tumbuhan mati kekeringan dan manusia-manusia berani meminum air comberan. Diatas sana, hujan melakukan negosiasi dengan awan, tentu bukan hal yang mudah karena awan pun harus mendapatkan legalitas dari lautan juga matahari. Jika tak dapat izin matahari maka ia tak akan memberikan sinar pada lautan untuk menguap dan menjadikan airnya menjadi butiran-butiran naik keatas dan menjadikannya, si awan. Hujan akan terus meminta izin agar cepat dipertemukan dengan tanah. Beginilah rupanya menuntaskan rindu ya, butuh banyak perjuangan. Ternyata tak hanya hujan yang melakukan negosiasi, tanah pun dengan sekuat tenaga berbisik setiap hari pada lautan untuk memberikan airnya yang akan berubah menjadi awan. Dua hal yang saling memperjuangkan untuk menciptakan titik temu yang romantis diawal bulan agustus.

Siapa yang tak mengagumi hujan? Banyak. Kemarin ketika tanah mengering banyak yang menggerutu meminta hujan diturunkan, ketika hujan datang gerutuan masih didendangkan Berlagak sok sibuk ada urusan, atau juga karena cucian yang akan basah. Ah, kurang menikmati sekali mereka. Bisa sepertinya hujan berkata, “Kemarin rindu padaku, kalian mengelu-elukanku, memintaku datang, sekarang aku datang malah tak diindahkan. Padahal aku datang setelah perjuangan panjang”. Kujelaskan mengapa aku mengagumi hujan yang kata orang-orang membuat tidak nyaman. Basah? Jelas, hujan adalah air. Silahkan saja meminta jika ingin hujan batu, mau? Aku sih tidak. Hujan batu tak bisa kunikmati, karena jutaan manusia akan mengurung diri untuk menghindari luka dari batuan yang turun. Aku menganguminya karena ketabahan yang ia punya, setelah berjuang meminta izin langit, matahari, lautan juga Tuhan ia masih rela merasakan jatuh yang sakit. Dari atas ke bawah, siapa bilang tidak sakit? Tetapi ia tabah menerimanya, demi menuntaskan rindu pada sang tanah. Hujan memang identik dengan keromantisan, sepasang kekasih yang kehujanan sehabis pulang sekolah, sang perempuan kedinginan lalu sang lelaki memberikan jaketnya lalu berkata, “Pakai jaketku, kamu pasti kedinginan”, sang perempuan mengangguk, saat itu sang lelaki menahan dingin untuk menyamankan sang perempuan. Ah, itu biasa saja ternyata. Ada yang lebih romantis yang dibuat hujan. Apa? Senyum seorang petani yang beberapa hari yang lalu menangis karena gagal panen akibat kekeringan. Hujan memberi rezeki pada siapapun di muka bumi jika kita ramah padanya. Tetapi, hujan bisa menjadi penyebab kesedihan pula yakni ketika puncak Bogor hujan dan Jakarta kebanjiran. Terlalu luas kubahas. Aku mengagumi hujan karena hujan menciptakan rindu. Rindu yang sengaja disimpan terlebih dahulu lalu bertemu dalam balutan senyum yang istimewa.

Aku menikmati hujan dari dalam kamar. Eh, melihat tanpa menikmati basahnya air maksudku. Aku perhatikan dari jendela bahwa air masih turun, seperti mengelus manja sang tanah. Aku menertawai mereka, mereka lagi dimabuk cinta sepertinya lupa kalau manusia-manusia diatasnya tak semua punya peneduh. Kubayangkan mereka saling tertawa, saling mencubit, sang hujan melindungi tanah, dan sang tanah pasrah dalam dinginnya dipeluk sang hujan. Lucu bukan? Menggemaskan dan menggoda untuk diganggu.

Sudahlah, selamat menikmati pertemuan yah Hujan dan Tanah. Bahagia lah kalian, karena aku menikmati hujanmu dan wangi tanahmu. Akulah sang pengagum hujan yang sedang merintis karir menjadi penikmat hujan, akulah sang peminta-minta ketabahan dari hujan, akulah yang selalu merindu dengan hebat dikala sepi. Akulah pengagum hujan dengan segala berkah Tuhan meminta selalu untuk dinikmatkan dalam menikmatinya, akulah sang pengagum hujan yang juga masih butuh peneduh ketika disapa hujan, apalagi hujan sore hari.

Rabu, 20 April 2016

Rindu Lagi?




Terbuat dari apa rindu?

Aku harap rindu bukan terbuat dari kenangan dan masa lalu. Seperti yang kalian tahu bahwa yang paling jauh di dunia ini adalah masa lalu dan kenangan. Aku tidak mau rindu terbuat dari itu karena hampir mustahil untuk membuat penawar rindu.

Rindu yang kumaksud disini bukanlah rindu sesuatu yang telah terjadi. Rindu yang aku maksud adalah rindu seseorang, bukan seseorang yang telah lama tidak bertemu, namun seseorang yang ingin selalu aku temui. Bukankah rindu itu karena kita ingin bertemu? Bukan karena lama waktu tidak bertemu.

Syukurlah, rindu yang kumaksud selalu memiliki penawarnya. Ketika bertemu rindu maka penawarnya adalah dirimu.

Aku bertemu rindu di perempatan pemikiran dimana logika dan perasaan saling berpapasan, semua berlalu lalang. Aku berada tepat di tepian sebuah perempatan itu, melihat perasaan dan logika saling bertabrakan. Aku menolak untuk turun ke jalan karena bagaimanapun bertemu rindu tak hanya cukup dengan logika karena mencintai rindu tak hanya cukup dengan menggunakan perasaan. Biarlah logika dan perasaan ini terus bertabrakan, biarlah aku bertemu rindu sebagai penawar rindu dirimu.

Senin, 07 Maret 2016

Sahabat


Kadang - kadang ada sahabat yang suka traktir kita makan, bukan karena mereka sok kaya tapi sebab mereka meletakkan persahabatan melebihi materi. Kadang - kadang ada sahabat yang rajin bekerja, bukan karena mereka mau tunjukkan kepandaian tapi mereka memahami arti sebuah tanggung jawab. Kadang - kadang ada sahabat yang memohon maaf dulu selepas berselisih faham, bukan karena mereka salah tapi sebab mereka menghargai orang di sekeliling mereka.

Kadang - kadang ada sahabat yang sukarela membantu kita, bukan karena mereka berhutang apa-apa tapi sebab mereka lihat kita sebagai seorang sahabat. Kadang-kadang ada sahabat yang selalu berkomunikasi lewat telpon, sms, bbm, whatsapp serta chatting anda, bukan karena mereka tak ada kerja lain yang dilakukan tapi sebab mereka INGAT PADA ANDA.

Satu hari, kita semua akan berpisah sahabat, kita akan teringat berbagai perbuatan dan impian yang kita ada kita lakukan. Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun, hingga hubungan ini menjadi asing.

Satu hari anak keturunan kita akan melihat foto-foto kita dan bertanya,
“Siapa mereka semua ini?”
Dan kita tersenyum dengan air mata yang tidak kelihatan, karena hati ini terusik dengan kata yang sayu, lalu berkata :
“DENGAN MEREKALAH SAYA MELALUI HARI-HARI YANG PALING INDAH DALAM HIDUP SAYA."

Minggu, 06 Maret 2016

Perjalanan


Setiap perjalanan yang panjang selalu akan sampai pada tujuan. Bukankah selalu begitu?
Dan bagaimanapun aku telah berjalan, bukankah akan tetap pulang?
Detik yang menjadi menit, meter yang menjadi kilo, adalah proses yang kunamai kepergian, atau liburan. Entahlah aku tak hendak menamainya apa.
Yang kutahu banyak yang terjadi di selanya dan yang harus kubawa pulang setelahnya.
Hampir seribu jabat tangan dan ratusan potret-potret senyumku selama perjalanan yang masih kusimpan.

Perjalanan kereta; rintik hujan dan terik matahari; suhu rendah hingga tinggi; berjalan kaki; menemui fajar dan senja di tempat yang berbeda. Mereka menamainya perjalanan mencari bahagia. Bagiku, ini sementara. Pada akhirnya aku akan merindukan rumah, tempat aku bahagia tanpa mencarinya. Kamu.
Ada banyak alasan untuk melakukan perjalanan, menikmati kota-kota sebelum usiaku menua, merasakan tinggi gunung dan dalam laut sebelum waktuku melarut.
Dan satu lagi alasan yang selalu kunafikan, adalah menghindari untuk mengingat senyummu, menghindari untuk mencandui ucapan selamat pagi dan malammu. Menghindari untuk tetap menjatuhcintaimu seperti dulu, menghindari untuk tidak berhenti mengkhayalkan kamu.

Satu hari di perjalanan, aku bertemu denganmu di sekelebatan kenang. Seketika ingatan tentangmu datang menjadi hujan, aku kedinginan. Meraih-raih kehangatan dengan melupakan. Lalu aku diam, sudah ke mana rindu dan cintaku yang dulu?
Aku membunuhnya dengan diam, dengan tak membicarakannya lagi pada malam.
Aku mengeringkan air mata dengan menangis sejadi-jadinya suatu waktu.
Menghabiskan rindu dengan terpaksa mencabik-cabik sendiri hatiku.
Kehilangan adalah soal ingatan, aku tak pernah kehilangan kamu di ingatan, meski nyatanya kamu sudah tak ada sejak lama.
Mencintaimu nyatanya tak butuh dibuat mengerti, aku mati sendiri pada misteri yang tak perlu dicari.
Mencintaimu, aku pernah. Hingga tak mau tahu pada situasi yang harusnya dimengerti.
Aku pernah, menghujankan air mata pada telepon genggam. Pernah mengutuki keadaan karena rinduku ingin dimenangkan.
Aku pernah, mencintaimu dengan terlalu, menginginkanmu dengan menggebu.
Aku sedang menghindari yang pernah terjadi dulu.
Tapi, bukankah setiap perjalanan yang panjang selalu akan sampai pada tujuan?
Dan bagaimanapun aku telah berjalan, bukankah akan tetap pulang?

Jumat, 04 Maret 2016

Perihal Menunggu II


Menunggu, adalah sebuah kata yang aku suka untuk pelipur lara
Menunggu. Kata orang itu sesuatu yang pilu. Pengiris harapan menjadi semakin tipis. Penunda temu atas rindu yang menggebu.
Dan kamu tahu? Bagiku tak begitu.

Menunggu adalah satu-satunya jawabanku. Tentangmu, harapanku yang satu.
Jadi ketika seluruh semesta menggugat betapa pahit kata itu, mengumpat betapa menyedihkan apa yang terlihat, hingga berakhir luruh berlutut pada sebuah keinginan untuk berputus asa dan tak lagi berharap banyak, aku hanya tersenyum.
Menunggu adalah satu-satunya cara bagiku. Untuk mengabulkan sebuah cemas yang begitu rapi tersisip di setiap doa. Ya, tentang kamu.

Kubaca lagi betapa tak kuasa dan penuh air mata ketika relativitas waktu membuktikan perannya. Menyendat waktu. Memperlama hitungan detik. Meski sebenarnya segala angka-angka itu berperan sama setiap harinya. Tak berubah kecuali rasa yang mempersepsinya sendiri.
Lagi-lagi aku tersenyum.

Bagiku menunggu adalah teman baikku. Mengajari setiap jengkal kesabaran yang tak memiliki batas akhirnya. Mengajari menutup cemburu dengan rupa-rupa senyum bahagia. Bukan dusta, hanya untuk memperbaiki performa rasa dalam jiwa. Mengajari menerima apa yang tak sanggup diusahakan dengan daya upaya. Mengajari melihat doa berpilin, melayang menuju angkasa, menemui Tuhannya.
.

Dua Pilihan


Pada akhirnya kita memang dihadapkan pada dua pilihan, menunggu atau pergi berlalu?
Tak terkecuali saya, situasi di mana kita harus jeli untuk lebih memilih hati atau pikiran bahkan memilih untuk menyeimbangkan keduanya.

Ada satu hal yang membuat kita memilih untuk menunggu, biasanya karena seseorang yang kita cinta, seseorang yang sama kamu rindukan tiap harinya. Satu hal yang lainnya adalah hati. Hatimu apa kabar? Akankah terus baik-baik saja saat kau memutuskan untuk menunggu? Saya pikir hati takkan pernah baik-baik saja saat keputusan itu diambil, entah dalam waktu lama atau sebentar. Karena banyak alasan, pernah tahu mencintai dengan diam? Mencintai dari jauh? Mencintai karena alasan-alasan tak tentu? Memang, takkan pernah ada satu alasan pun kenapa mesti cinta.

Pergi berlalu pun seperti menunggu, hati terpaksa merawat sendiri lukanya. Dengan merelakan segala yang pernah kita anggap sebuah pertemuan menjadi sebuah kehilangan yang percuma. Karena tak sekali pun ada rasa yang demikin juga dirasa olehnya. Bukan begitu? Tapi kau tahu bukan, kalau sebuah kehilangan adalah awal dari menemukan yang lainnya. Sekiranya hatimu sesaat terhempas, sakit memang. Namun pada akhirnya, akan ada seorang dia yang membantu merawat lukamu sampai sembuh, sampai benar-benar sembuh.

Lagi-lagi, mengikutsertakan Tuhan dalam setiap perkara hati memang kunci. Karena kamu bisa lebih tahu mana benar mencintai atau mengagumi. Dengan sendirinya, Tuhan akan kasih pengertian itu untukmu. Juga tak melulu memelihara ego sehingga ia tumbuh besar di dirimu. Seperti, kamu memutuskan untuk menunggu tapi tanpa tahu baru saja kamu menyakiti dirimu sendiri untuk kesekian kali. Padahal kamu harusnya sadar, jangan sampai orang yang kamu abaikan sekarang adalah sosok yang kamu cari dan ingini selama ini. Jangan sampai.

Perihal Menunggu


Bila memang kita sedang menunggu ia yang katanya terbaik untukmu, biarlah kita menunggu dengan sebaik-baiknya menunggu. Dengan mencari sebanyak-banyak ilmu tentang hakikat menunggu, memahami sebanyak-banyaknya nasihat tentang yang baik bagi yang baik. Melapangkan dada selapang-lapangnya tentang siapapun yang didatangkan Tuhan pada kita.

Bila memang kita sedang menunggu dia yang katanya akan menyayangimu sepanjang hidupnya. Mari kita mencari-cari perhatian Tuhan, bukan mencari perhatian dari selain Tuhan. Biar Tuhan tau bahwa kita sedang menjadi yang baik, biar Tuhan amat yakin bahwa kita sedang berjuang untuk hamba-Nya yang baik.

Bila memang kita sedang menunggu ia yang akan setia memayungi kita kala hujan dan terik datang. Biarlah kita selalu terjaga, terjaga untuk selalu berdoa pada Tuhan agar kita segera diselamatkan Tuhan dari jatuh yang terlalu pada orang yang salah, diselamatkan Tuhan dari percaya yang terlalu pada kata-kata yang tak pernah ditepati, diselamatkan Tuhan dari patah yang sampai membuat kita lupa pada Tuhan.

Bila memang kita sedang menunggu yang baik, biarlah kita menjadi baik bukan untuk siapa-siapa. Tapi untuk Tuhan, agar Tuhan tersenyum bahagia saat mendatangkan yang baik pada kita.

Pada Akhirnya......




Kamu masih menjadi raja, duduk di singgasana yang kubangun dari sesuatu bernama cinta. Dan rupanya, cemburuku mengawalmu dengan setia, mengikuti ke mana kamu melangkahkan kaki. Aku hanya jelata, melayanimu demi secawan temu penawar rindu.

Lelahku jangan ditanya. Rinduku bukan satu-dua. Ia tak terhingga, memenuhi ruang di kepala, menyesakkan rongga dada. Melayanimu, aku inginnya berhenti saja, membiarkan rindu berdiam di sana; di kepala dan rongga dada. Namun sayangnya, ia semakin berkuasa. Ditanamkannya luka untuk setiap rindu yang tak terbayar. Bukan main sakitnya. Tak berdaya aku dibuatnya.

Pernah aku mencoba, menuliskan rindu-rindu itu pada lembaran-lembaran, lalu kuterbangkan. Barangkali ia hendak berpindah tujuan. Tapi nyatanya, hingga aku jemu, rinduku tetap memilihmu.

Katakan rinduku tak tahu diri, menginginkanmu yang terlalu tinggi. Siapa yang akan peduli? Aku? Tidak sama sekali. Percuma saja, karena pada akhirnya, hingga aku membenci diri sendiri, rindu untukmu masih enggan pergi.

Rindu?


Rasanya setiap hari ingin bercakap denganmu. Meluahkan segala rindu atas cinta yang tertahan. Menghilangkan segala gundah yang sesakan dada. Kau tahu, hampir mati hati berjuang bertahan memikul rasa ini.

Namun setelah dipikir lagi, inilah yang terbaik untuk kita, tetap diam memendam rasa, untuk kuat tak bertegur sapa, atau sekedar bertanya-tanya, untuk sesuatu yang tak perlu ditanya.
Karena jika memang berjodoh, ini akan jadi butiran noda, perusak cinta yang hati idamkan. Bukankah hati ingin cinta suci tanpa noda? Marilah simpan derap cinta ini hingga saatnya tiba. Saat bersama pasangan yang halal, entah bersamaku atau bersamanya..

Namun jika memang bukanlah jodoh, ini tetap akan jadi butiran noda. Perusak cinta yang dihalalkan. Mengusik ketentraman hubungan, bersama dia yang ditakdirkan..
Bisakah hati melupakan orang yang telah mencurinya?

“Kadang kau harus meneladani matahari. Ia cinta pada bumi; tapi ia mengerti; mendekat pada sang kekasih justru membinasakan"

Aku Jenuh Kawan


“Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu. Teruslah berlari hingga kebosanan itu bosan mengejarmu. Teruslah berjalan hingga keletihan itu letih bersamamu. Teruslah berjaga hingga kelesuan itu lesu menemanimu. Dan teruslah berjuang, hingga kejenuhan itu JENUH memerangimu!”

Saat kau tak ada di sampingku kala aku tengah tersengal-sengal berjalan, aku takkan marah padamu, kawan. Saat aku tengah letih melanjutkan perjalanan hingga akhirnya aku memilih berdiam sejenak, aku takkan menuntutmu untuk bergerak membantuku, minimal memberikan aku makan ataupun minum penghilang rasa letih ini, aku takkan menuntut itu, kawan.
Tapi kala aku berdiam senejak, aku merasakan kejenuhan, kawan. Aku jenuh dengan perjalanan ini. Jalanan ini terlalu sepi, jalanan ini gersang, tak kutemui ada pohon rindang di sepanjang jalan ini, dimana aku bisa sekadar duduk merasakan semilir angin sejuk di sana. Padahal matahari sedang terik-teriknya sejak kumulai perjalanan ini. Aku menghela nafas. Kulanjutkan perjalanan ini dengan langkah gontai.

Lalu, kurasakan ada aliran hangat di kedua pipiku.
Aku berjalan. Aku berjalan dan kadang menoleh kebelakang, berharap kutemui kau menyusulku. Tapi nihil, kawan. Aku kembali menghela nafas. Aku bergumam dalam hati, “Tenang kawan, aku mengerti. Kau orang yang sibuk, lebih sibuk dariku. Kau punya amanah dimana-mana.” Aku tersenyum sambil menyeka aliran hangat yang sedikit mengering di kedua pipiku.
Aku takkan memaksamu untuk peduli padaku. Aku takkan memaksamu berjalan bersamaku. Karena aku pun tahu, jalan ini tak enak. Jalan ini sungguh tak enak. Bagaimana mungkin aku memaksamu, sedang aku terus-terus merasakan kejenuhan di jalan ini. Kau pun pasti mengerti, jika saja jalan ini enak, sudah pasti banyak yang kan melewatinya. Jalan ini takkan sepi jika saja ada kau di sini, kan? Tapi, itu hanya sekadar harapku.

Takkan kupaksa kau berletih-letih di jalan ini. Kan kubiarkan kau memilih jalan yang kau sukai. Asalkan, kau lalui jalan itu dengan sabar dan semangat tak kenal jenuh. Tapi jika kau jenuh, kau boleh sesekali mengabarkan padaku. Aku pasti akan ada, menjadi tempat sandaranmu kala kau butuh tempat bersandar untuk sekadar melepas kejenuhanku.

Perihal Jodoh


Jangan memutuskan untuk tidak menikah lantaran pernah merasa tersakiti oleh seseorang yang dulu pernah kau cintai. Kau tidak pantas menghukum dirimu sendiri dengan trauma berkepanjangan. Buka mata, hati, telinga dan pikiranmu, biarkan Dia mengirim hidayahNya padamu untuk menyembuhkan luka hati serta membuatmu kembali berpijar. Tuhan “mengikuti” prasangka hambaNya, jadi aku harap kau tak berprasangka buruk kepadaNya. Jodoh terbaikmu ada, jika kau berdoa dan yakin pada doa yang kau panjatkan padaNya.

Jangan pesimis kemudian larut dalam keputusasaan bila selama ini kau sudah berkali-kali gagal dalam membina hubungan dengan seseorang. Karena biasanya dalam sebuah film, yang baik dan tidak berputus asa akan selalu menang di ending cerita, dan di dunia nyata itupun berlaku. Jadi, bersabarlah tanpa pernah berputus asa. Tuhan menyayangimu lebih dari yang kau tahu.

Jangan dulu untuk memutuskan jatuh cinta kepada seseorang hanya karena alasan “nyaman”, sebab yang membuatmu “nyaman” belum tentu bisa membimbingmu ke jalan lurus yang di Ridha-i Tuhan-mu. Jatuh cintalah pada dia yang mencinta Tuhan-mu, jangan paksa dirimu untuk mengendalikan hatimu (sebab kau tak akan mampu) kita hanya manusia biasa yang setiap detik selalu membuat kesalahan, hati kita lemah dan selalu berubah-ubah. Biarkan Tuhan-mu yang mengatur, membimbing dan menjatuhkan hatimu pada seseorang yang shaleh menurutNya, dan bukan menurut standar-mu.
Kebaikan selalu ada bagi dia yang percaya dan yakin pada apa yang dia percayai. Akhiri kisah perjalananmu dengan kebahagiaan yang baik dan membaikan, jangan akhiri ujung ceritamu dengan penyesalan.

Kamis, 03 Maret 2016

Kelak Aku


Kelak akan kau jumpai aku yang jenuh pada tunggu dan waktu yang akan memberitahumu tanpa aba-aba terlebih dahulu.

Bagaimana bahagiamu? Sudahkah dia hadir-kau hadirkan di hidupmu? Aku melihatnya di senyummu. Tetapi aku masih aku yang dulu, kamu. Yang masih saja sulit membedakan mana kamu yang bahagia, dan mana kamu yang terlihat bahagia. Aku hanya merasakan auramu, kamu.
Bagaimana kabarmu? Melihatmu masih dapat tersenyum, aku dapat mengetahui kamu sedang baik. Tetapi untuk baik-baik saja, aku belum bisa mengetahuinya dengan pasti.
Aku masih penuh dengan prasangka, ya? Percayalah aku selalu mencoba menghilangkan dan mencari alasan alasan positif atas semuanya. Terutama kendali atas perasaanku sendiri.
Aku mungkin masih menunggumu. Aku hanya merasa bohong saja ketika aku berkata aku sudah berpaling. Karena kenyataannya, ya aku masih disini.
Kamu tau, aku sedang menunggu jenuh ku. Semoga dia datang tepat waktu. Tidak perlu secepatnya. Karena apa yang aku pikir buruk, belum tentu buruk menurutNya. Menunggu jenuh untuk menunggu. Menunggumu. Aku lucu ya? Seakan aku berharap untuk segera dipalingkan ke hati yang lain.
Dan kamu perlu tau, waktu yang tepat untuk jenuh akan datang tanpa aba-aba. Yang membuatku dapat segera *puff, menghilang dari tempat duduk manisku, tempatku menunggumu. Aku tidak peduli lagi, apakah kau akan datang meskipun terlambat. Karena aku sudah jenuh saat itu.
Mungkin. Hanya mungkin. Karena aku masih perempuan yang dapat dengan mudah luluh. Tolong, jangan kau anggap remeh soal tunggu-menunggu ini. Apa hanya karena kamu lelaki sehingga kamu dapat mendatangi semua pintu yang kamu inginkan?
Dan jangan lupa kemungkinan bahwa perempuan juga dapat benar-benar jenuh. Aku juga dapat benar-benar jenuh. Semoga kamu siap. Dan jatuhlah pada pintu-pintu yang kau ketuk. Datangi dia, rangkai cerita dan mungkin kamu lupa pernah memintaku menunggu. Tidak apa. Toh saat itu aku sudah jenuh.

Rabu, 02 Maret 2016

Sang Pemilik Senja


Tak selamanya senja milik jingga, karena ada kalanya senja itu kelabu, jadi siapa pemilik senja itu? pemillik senja adalah semesta, karena saat senja menjadi jingga atau kelabu, semesta selalu setia menemaninya.
Sama seperti kita, aku adalah semesta, kau adalah senja yang menghangatkan, dan dia adalah jingga yang terkadang mengindahkanmu.
Jenuh, lima huruf yang penuh dengan kebingungan, kamu tahu? saat jenuh datang, kan ada yang tersakiti dan ada yang tersenyum gembira, semesta terasa tersakiti saat senja lupa akan semesta, pemilik senja yang sebenarnya, sedangkan jingga? dia kan senang saat dekat dengan senja, karena saat senja berwarna jingga, ada keindahan yang tercipta, sampai senja pun lupa siapa pemiliknya yang sebenarnya.
Saat senja terhalang awan mendung, siapa yang setia menemani senja? saat senja tertutup kabut, siapa yang berusaha memohon kepada matahari agar menerangkan senja? siapa? semua tahu jawabannya, tapi kenapa? kenapa saat semesta berusaha dengan penuh untuk menjaga senja, saat itu senja malah begitu asik dengan jingga?
Senja, kau menghangatkan, kini kau sedang bersinar indah bersama jingga, bersenang senanglah, tapi saat keindahanmu menjadi kelabu, semesta yakin senja akan pulang, karena semesta adalah tempat senja pulang.
Senja berbahagialah bersamanya, jingga sang pengindah senja, semesta kan menunggu walau harus teracuhkan.

Selasa, 01 Maret 2016

Perihal Diam


Mataku diwarisi basah oleh diammu. Ia lelah mencari celah untuk tahu kedalaman hatimu. Serupa percuma, sebab aku bukan cenayang yang bisa tahu tanpa kamu bercerita dengan runut satu-satu.

Pertemuan adalah gerbang. Katamu. Kau akan mengajakku masuk untuk melihat semuanya tanpa ada lagi rahasia. Aku khawatir. Kalau-kalau, kau pikir, menemuimu tak pernah mampir di kepalaku.

Aku rengkah dengan kedalaman yang sama, sebab diammu yang juga sama. Kekasih, beratkah berkata sudah? Enggankah berkata tolong betah? Bagimu, sulitkah untuk berhenti membuatku regah?
Banyak yang ingin aku tanyakan. Meski tak yakin semuanya akan bermuara pada sebuah jawaban; meski nanti akhirnya takdir kita adalah dipertemukan.

Mungkin aku yang salah. Terlalu dalam tenggelam pada dadamu yang hingga kini bagiku masih terasa kelam. Aku minta maaf, sudah menitipi pundakmu dengan harapan yang terlalu tinggi. Kepalamu pasti pusing sekali.

Kali ini jangan berkata tidak apa-apa! Katakan kau tidak suka dan ingin aku pergi saja.

Senin, 29 Februari 2016

Aku, Kamu dan Senja



Dua bulan yang lalu, aku masih bisa menatap pandangan matamu yang tajam, aku bisa merasakan kehadiranmu.
Dua minggu yang lalu, goresan luka menghentakan waktu, suasana berujung pilu.

Mengguratkan abu di langit biru. Rintik hujan berseru seakan alam pun tau. Sampai kini pun kau tak pernah mau. Sampai kapan langit ini terus berkelabu? Haruskah aku yang terjatuh, terinjak-injak dan terjatuh kembali ini mengajakmu kembali memandang langit biru yang berganti senja? Bisakah aku yang terjatuh, terinjak-injak, dan terjatuh kembali, berdiri lagi menatap pandanganmu yang tajam itu?

Bisakah aku mengajakmu memandang langit biru? Bahkan mungkin kamu takkan peduli jika aku dapat berdiri kembali, menatapmu dengan segudang pertanyaan.

Aku menatap hamparan lautan biru. Mencoba bersabar menanti senyuman senja di sudut langit biru. Pasir hangat yang terjemur terik mentari, menopang tubuhku. Angin laut menyentuh tulangku, menyadarkan ku dari lamunanku. Luka ini terasa pilu diterpa angin laut. Dia menyapu butiran suci yang tidak bisa dibendung lagi.

Aku melihat batu karang yang terhempas deru ombak. Batu itu sangat besar dan kuat. Namun sebesar dan sekuat apapun batu itu, Seiring berjalannya waktu, akan hancur berkeping keping di hempas deru ombak. Namun sayangnya “batu” ini berbeda, batu ini terlalu kokoh. Apapun yang menghalanginya, ia takkan pernah mengalah, bahkan mungkin ombak yang menghempasnya yang akan hancur.

Aku menatap kembali langit biru dengan penuh keraguan. Langit biru pun berganti senja. Aku menatap sendiri lukisan lembayung di langit senja. Menatap pantulan senja di lautan biru. Aku masih mematung di atas pasir. Hanya aku sendiri yang memandang senja. Bukan dengan kamu ataupun dia. Hanya aku seorang

Memandang senja bersamaku pun engkau enggan. Apalagi “menatapku” kembali?

Apa harus aku terombang ambing di lautan biru, terguling-guling di lembahan yang berliku liku, terjatuh dari ketinggian, terinjak-injak dari kebenaran, dan terisak-isak memanggil namamu, agar kamu mau menoleh ke belakang, menatapku kembali?

Sampai kapan begini?
Sudah tak pedulikah kamu?

Penghuni Ruang Tunggu



Konon, ini adalah wabah yang pasti diderita oleh penghuni ruang tunggu. Seperti endemik, ia tidak mungkin dibasmi atau dipindahkan dari sana. Menunggu adalah aktivitas yang sudah disepakati menjadi biang keroknya. Lalu, apakah menunggumu juga akan menyebabkan rindu? Kamu pasti bertanya demikian. Di ruang tungguku, sepi adalah penyebar utamanya. Ia selalu menyelinap masuk dari jendela. Sebagai penyakit yang pasti kuderita, apa boleh buat, yang harus dilakukan adalah mengakrabinya. Manusia yang berada di luar ruang tunggu berkata, satu-satunya obat rindu adalah bertemu.

Apa yang akan terjadi padaku, si pengidap rindu yang belum tahu di mana kamu. Lalu bagaimana nasibku bila itu adalah satu-satunya penawar. Bagaimana jika? Bagaimana jika? Bagaimana jika? Itu pertanyaan yang selalu datang ketika aku mengharapkan pertemuan. Ia bagaikan harga yang harus kubayar tunai untuk mendapatkan penawar. Pertemuan merupakan kemewahan yang tak mudah didapat. Ia adalah penawar paling mahal bagi manusia ruang tunggu.

Haruskah aku jual benda-benda yang ada di sini? Waktu. Ya, haruskah aku menjualnya? Padahal dia adalah teman paling setia. Atau aku harus menjual kesetiaan? Kata orang, harganya paling mahal di luar sana. Kenangan? Apakah ia berharga? Siapa yang mau membeli kenangan manusia ruang tunggu? Di dalamnya hanya ada kisah-kisah kebosanan menaklukkan penantian. Bagaimana menurutmu bila kebosanan itu yang aku jual? Ah, siapa yang mau beli. Nampaknya dijual di pasar loak pun tidak akan ada yang membelinya. Diobral, bahkan ditulisi kata “sale” belum tentu ada yang mendekat padanya.

Buatku, membeli penawar adalah sesuatu yang agak berat. Surat-surat ini mengkin jadi terapi. Memang tidak akan mengobati, tapi paling tidak, bisa mengurangi sedikit rasa sakitnya. Ngomong-ngomong, di luar sana, apakah kamu pernah mengalami penyakit yang sama? Menurut desas-desus, kecemasan menjadi penyakit yang menimpa manusia jenis kalian. Apa yang kamu cemaskan? Bahkan penyakit yang menjangkitiku adalah kamu penawarnya. Kamu harus terbebas dari kecemasan. Jangan sampai kamu mati karena penyakit itu. Mati dalam kecemasan merupakan kematian paling takberharga. Cukup berpikir, kamu harus hidup untuk menyelamatkanku dari wabah ruang tunggu.

Aku sering melakukan kesepakatan dengan Tuhan. Bagaimana jika aku keluar dari ruang tunggu ini dan mencarimu. Tuhan berkata bahwa kamu sedang mencariku. Aku jadi urung melangkahkan kaki. Bagaimana ceritanya dua orang yang saling mencari akan bertemu? Bukankah pasangan sejati adalah mencari dan dicari. Mungkin Tuhan memberi peringatan bahwa orang-orang yang dicari tidak boleh berkeliaran. Dalam keadaan menunggu seperti ini, aku selalu berpikir keras, apakah kamu sadar sedang ditunggu? Jangan-jangan kamu tidak sadar sedang ditunggu? Bisa jadi kamu malah sedang menunggu. Boleh jadi, kamu malah tidak sedang mencariku. Intrupsi-intrupsi tentangmu kerap aku sampaikan kepada Tuhan. Namun, hanya ada satu jawaban untuk manusia jenis kami: keyakinan. 

Jawaban itu menjadi rasa sakit yang lain lagi. Kata-Nya, itu vaksin yang menjaga imunitas di ruang tunggu. Haruskah aku tak mempercayai Tuhan dalam hal ini? Terlalu durhaka memang. Vaksin ini sudah tersedia di setiap sudut ruang tunggu. Hanya saja, tidak setiap orang memilihnya. 

Pada lain waktu, aku meminta izin untuk mencari orang-orang yang mungkin mengenalmu. Tidak perlu bertemu, mungkin hanya menelpon, atau facebookan. Ia malah berkata, kepada siapa kamu akan bertanya? Aku salah ucap kepada Yang Maha Tahu nampaknya. Aku terlalu malu untuk bertanya kepada-Nya karena Ia paling tahu kebusukanku. Ia paling tahu kesiapanku bertemu kamu. Akhirnya aku menyerah pada surat-surat yang berakhir di ruang tunggu.

Tetaplah hidup, karena aku masih bertahan hidup sampai saat ini. Jangan terlalu cemas, karena aku baik-baik saja dengan keadaanmu yang sekarang. Kita hanya perlu bertemu sekali. Apa yang akan terjadi setelah itu, kita pikirkan nanti.