Siapa kira apa yang tampak oleh mata mampu membutakan hingga kita lupa bahwa semua itu hanya sementara. Siapa kira yang tampak saat ini justru bisa diambil sewaktu-waktu atau akan bertambah nilai baiknya suatu hari nanti. Manusia memang cenderung mengumpat apa yang tampak buruk dari suatu musibah atau ketika takdirnya lebih buruk dari orang lain.
Pernahkah kau merasa ketika Tuhan berbicara padamu? Rasa malu seakan menjalar ke setiap inci tubuhmu, mengikat tanpa terlewat. Ingin rasanya bersembunyi dari tatapan-Nya tapi kau tak kuasa melakukan itu. Saat itu Dia tengah berkata, “Aku tak pernah berhenti melihatmu, aku bahkan selalu mengutamakan kebaikanmu. Tak sadarkah?” Sejenak matamu akan berembun, kemudian aliran beningnya luluh melewati pipi. Lalu Dia berkata lagi, “Ingatkah kau dengan mimpi yang tak pernah kau katakan? Aku mendengar suara hatimu. Aku ingat semua mimpi yang tak pernah sering kau rapal dalam doa.”
Sejenak waktu membawamu berkunjung kepada masa lalu, dimana saat itu kau menyaksikan seseorang yang menarik perhatianmu lalu kau kagumi. Tanpa sadar hatimu berbisik ingin mengikuti jejaknya, ingin mewujudkan keinginan paling besarmu seperti dia. Dalam bisikan yang tak pernah diketahui siapapun kau seakan berdoa. Kau lupa, kemudian presepsimu menemui kesalahan, bahwa Dia Yang Maha Tau ternyata sangat pandai membaca isi hati. Dan Dia adalah pengingat paling ahli. Matamu mengembun lagi di dinding-dinding lapisan terluar matamu, tanpa pernah diluluhkan oleh kelopak mata.
Kalimat Tuhan membelai lembut gendang telingamu lagi, “Aku telah merencanakan sesuatu demi kebaikanmu dan juga mimpimu. Mari genggamlah tangan-Ku kemudian melewati masa sulit ini. Selalu ada cahaya yang terang setelah gelap usai, selalu ada pelangi indah setelah hujan badai.” Kali ini kesadaran seolah menyambung kembali urat malumu menjadi sempurna, dijahit dengan begitu teliti. Wajahmu terbenam oleh air mata. Ingin rasanya kau memeluk Dia yang tak pernah kau lihat seperti apa, tapi ada lebih dekat dari urat nadimu sendiri. Nyatanya semua masa sulit dan bahagia yang telah terlewat dulu adalah masa yang mengantarkanmu menuju masa dimana kau berdiri saat ini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar