Senin, 29 Februari 2016

Aku, Kamu dan Senja



Dua bulan yang lalu, aku masih bisa menatap pandangan matamu yang tajam, aku bisa merasakan kehadiranmu.
Dua minggu yang lalu, goresan luka menghentakan waktu, suasana berujung pilu.

Mengguratkan abu di langit biru. Rintik hujan berseru seakan alam pun tau. Sampai kini pun kau tak pernah mau. Sampai kapan langit ini terus berkelabu? Haruskah aku yang terjatuh, terinjak-injak dan terjatuh kembali ini mengajakmu kembali memandang langit biru yang berganti senja? Bisakah aku yang terjatuh, terinjak-injak, dan terjatuh kembali, berdiri lagi menatap pandanganmu yang tajam itu?

Bisakah aku mengajakmu memandang langit biru? Bahkan mungkin kamu takkan peduli jika aku dapat berdiri kembali, menatapmu dengan segudang pertanyaan.

Aku menatap hamparan lautan biru. Mencoba bersabar menanti senyuman senja di sudut langit biru. Pasir hangat yang terjemur terik mentari, menopang tubuhku. Angin laut menyentuh tulangku, menyadarkan ku dari lamunanku. Luka ini terasa pilu diterpa angin laut. Dia menyapu butiran suci yang tidak bisa dibendung lagi.

Aku melihat batu karang yang terhempas deru ombak. Batu itu sangat besar dan kuat. Namun sebesar dan sekuat apapun batu itu, Seiring berjalannya waktu, akan hancur berkeping keping di hempas deru ombak. Namun sayangnya “batu” ini berbeda, batu ini terlalu kokoh. Apapun yang menghalanginya, ia takkan pernah mengalah, bahkan mungkin ombak yang menghempasnya yang akan hancur.

Aku menatap kembali langit biru dengan penuh keraguan. Langit biru pun berganti senja. Aku menatap sendiri lukisan lembayung di langit senja. Menatap pantulan senja di lautan biru. Aku masih mematung di atas pasir. Hanya aku sendiri yang memandang senja. Bukan dengan kamu ataupun dia. Hanya aku seorang

Memandang senja bersamaku pun engkau enggan. Apalagi “menatapku” kembali?

Apa harus aku terombang ambing di lautan biru, terguling-guling di lembahan yang berliku liku, terjatuh dari ketinggian, terinjak-injak dari kebenaran, dan terisak-isak memanggil namamu, agar kamu mau menoleh ke belakang, menatapku kembali?

Sampai kapan begini?
Sudah tak pedulikah kamu?

Penghuni Ruang Tunggu



Konon, ini adalah wabah yang pasti diderita oleh penghuni ruang tunggu. Seperti endemik, ia tidak mungkin dibasmi atau dipindahkan dari sana. Menunggu adalah aktivitas yang sudah disepakati menjadi biang keroknya. Lalu, apakah menunggumu juga akan menyebabkan rindu? Kamu pasti bertanya demikian. Di ruang tungguku, sepi adalah penyebar utamanya. Ia selalu menyelinap masuk dari jendela. Sebagai penyakit yang pasti kuderita, apa boleh buat, yang harus dilakukan adalah mengakrabinya. Manusia yang berada di luar ruang tunggu berkata, satu-satunya obat rindu adalah bertemu.

Apa yang akan terjadi padaku, si pengidap rindu yang belum tahu di mana kamu. Lalu bagaimana nasibku bila itu adalah satu-satunya penawar. Bagaimana jika? Bagaimana jika? Bagaimana jika? Itu pertanyaan yang selalu datang ketika aku mengharapkan pertemuan. Ia bagaikan harga yang harus kubayar tunai untuk mendapatkan penawar. Pertemuan merupakan kemewahan yang tak mudah didapat. Ia adalah penawar paling mahal bagi manusia ruang tunggu.

Haruskah aku jual benda-benda yang ada di sini? Waktu. Ya, haruskah aku menjualnya? Padahal dia adalah teman paling setia. Atau aku harus menjual kesetiaan? Kata orang, harganya paling mahal di luar sana. Kenangan? Apakah ia berharga? Siapa yang mau membeli kenangan manusia ruang tunggu? Di dalamnya hanya ada kisah-kisah kebosanan menaklukkan penantian. Bagaimana menurutmu bila kebosanan itu yang aku jual? Ah, siapa yang mau beli. Nampaknya dijual di pasar loak pun tidak akan ada yang membelinya. Diobral, bahkan ditulisi kata “sale” belum tentu ada yang mendekat padanya.

Buatku, membeli penawar adalah sesuatu yang agak berat. Surat-surat ini mengkin jadi terapi. Memang tidak akan mengobati, tapi paling tidak, bisa mengurangi sedikit rasa sakitnya. Ngomong-ngomong, di luar sana, apakah kamu pernah mengalami penyakit yang sama? Menurut desas-desus, kecemasan menjadi penyakit yang menimpa manusia jenis kalian. Apa yang kamu cemaskan? Bahkan penyakit yang menjangkitiku adalah kamu penawarnya. Kamu harus terbebas dari kecemasan. Jangan sampai kamu mati karena penyakit itu. Mati dalam kecemasan merupakan kematian paling takberharga. Cukup berpikir, kamu harus hidup untuk menyelamatkanku dari wabah ruang tunggu.

Aku sering melakukan kesepakatan dengan Tuhan. Bagaimana jika aku keluar dari ruang tunggu ini dan mencarimu. Tuhan berkata bahwa kamu sedang mencariku. Aku jadi urung melangkahkan kaki. Bagaimana ceritanya dua orang yang saling mencari akan bertemu? Bukankah pasangan sejati adalah mencari dan dicari. Mungkin Tuhan memberi peringatan bahwa orang-orang yang dicari tidak boleh berkeliaran. Dalam keadaan menunggu seperti ini, aku selalu berpikir keras, apakah kamu sadar sedang ditunggu? Jangan-jangan kamu tidak sadar sedang ditunggu? Bisa jadi kamu malah sedang menunggu. Boleh jadi, kamu malah tidak sedang mencariku. Intrupsi-intrupsi tentangmu kerap aku sampaikan kepada Tuhan. Namun, hanya ada satu jawaban untuk manusia jenis kami: keyakinan. 

Jawaban itu menjadi rasa sakit yang lain lagi. Kata-Nya, itu vaksin yang menjaga imunitas di ruang tunggu. Haruskah aku tak mempercayai Tuhan dalam hal ini? Terlalu durhaka memang. Vaksin ini sudah tersedia di setiap sudut ruang tunggu. Hanya saja, tidak setiap orang memilihnya. 

Pada lain waktu, aku meminta izin untuk mencari orang-orang yang mungkin mengenalmu. Tidak perlu bertemu, mungkin hanya menelpon, atau facebookan. Ia malah berkata, kepada siapa kamu akan bertanya? Aku salah ucap kepada Yang Maha Tahu nampaknya. Aku terlalu malu untuk bertanya kepada-Nya karena Ia paling tahu kebusukanku. Ia paling tahu kesiapanku bertemu kamu. Akhirnya aku menyerah pada surat-surat yang berakhir di ruang tunggu.

Tetaplah hidup, karena aku masih bertahan hidup sampai saat ini. Jangan terlalu cemas, karena aku baik-baik saja dengan keadaanmu yang sekarang. Kita hanya perlu bertemu sekali. Apa yang akan terjadi setelah itu, kita pikirkan nanti.