Senin, 07 Maret 2016

Sahabat


Kadang - kadang ada sahabat yang suka traktir kita makan, bukan karena mereka sok kaya tapi sebab mereka meletakkan persahabatan melebihi materi. Kadang - kadang ada sahabat yang rajin bekerja, bukan karena mereka mau tunjukkan kepandaian tapi mereka memahami arti sebuah tanggung jawab. Kadang - kadang ada sahabat yang memohon maaf dulu selepas berselisih faham, bukan karena mereka salah tapi sebab mereka menghargai orang di sekeliling mereka.

Kadang - kadang ada sahabat yang sukarela membantu kita, bukan karena mereka berhutang apa-apa tapi sebab mereka lihat kita sebagai seorang sahabat. Kadang-kadang ada sahabat yang selalu berkomunikasi lewat telpon, sms, bbm, whatsapp serta chatting anda, bukan karena mereka tak ada kerja lain yang dilakukan tapi sebab mereka INGAT PADA ANDA.

Satu hari, kita semua akan berpisah sahabat, kita akan teringat berbagai perbuatan dan impian yang kita ada kita lakukan. Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun, hingga hubungan ini menjadi asing.

Satu hari anak keturunan kita akan melihat foto-foto kita dan bertanya,
“Siapa mereka semua ini?”
Dan kita tersenyum dengan air mata yang tidak kelihatan, karena hati ini terusik dengan kata yang sayu, lalu berkata :
“DENGAN MEREKALAH SAYA MELALUI HARI-HARI YANG PALING INDAH DALAM HIDUP SAYA."

Minggu, 06 Maret 2016

Perjalanan


Setiap perjalanan yang panjang selalu akan sampai pada tujuan. Bukankah selalu begitu?
Dan bagaimanapun aku telah berjalan, bukankah akan tetap pulang?
Detik yang menjadi menit, meter yang menjadi kilo, adalah proses yang kunamai kepergian, atau liburan. Entahlah aku tak hendak menamainya apa.
Yang kutahu banyak yang terjadi di selanya dan yang harus kubawa pulang setelahnya.
Hampir seribu jabat tangan dan ratusan potret-potret senyumku selama perjalanan yang masih kusimpan.

Perjalanan kereta; rintik hujan dan terik matahari; suhu rendah hingga tinggi; berjalan kaki; menemui fajar dan senja di tempat yang berbeda. Mereka menamainya perjalanan mencari bahagia. Bagiku, ini sementara. Pada akhirnya aku akan merindukan rumah, tempat aku bahagia tanpa mencarinya. Kamu.
Ada banyak alasan untuk melakukan perjalanan, menikmati kota-kota sebelum usiaku menua, merasakan tinggi gunung dan dalam laut sebelum waktuku melarut.
Dan satu lagi alasan yang selalu kunafikan, adalah menghindari untuk mengingat senyummu, menghindari untuk mencandui ucapan selamat pagi dan malammu. Menghindari untuk tetap menjatuhcintaimu seperti dulu, menghindari untuk tidak berhenti mengkhayalkan kamu.

Satu hari di perjalanan, aku bertemu denganmu di sekelebatan kenang. Seketika ingatan tentangmu datang menjadi hujan, aku kedinginan. Meraih-raih kehangatan dengan melupakan. Lalu aku diam, sudah ke mana rindu dan cintaku yang dulu?
Aku membunuhnya dengan diam, dengan tak membicarakannya lagi pada malam.
Aku mengeringkan air mata dengan menangis sejadi-jadinya suatu waktu.
Menghabiskan rindu dengan terpaksa mencabik-cabik sendiri hatiku.
Kehilangan adalah soal ingatan, aku tak pernah kehilangan kamu di ingatan, meski nyatanya kamu sudah tak ada sejak lama.
Mencintaimu nyatanya tak butuh dibuat mengerti, aku mati sendiri pada misteri yang tak perlu dicari.
Mencintaimu, aku pernah. Hingga tak mau tahu pada situasi yang harusnya dimengerti.
Aku pernah, menghujankan air mata pada telepon genggam. Pernah mengutuki keadaan karena rinduku ingin dimenangkan.
Aku pernah, mencintaimu dengan terlalu, menginginkanmu dengan menggebu.
Aku sedang menghindari yang pernah terjadi dulu.
Tapi, bukankah setiap perjalanan yang panjang selalu akan sampai pada tujuan?
Dan bagaimanapun aku telah berjalan, bukankah akan tetap pulang?

Jumat, 04 Maret 2016

Perihal Menunggu II


Menunggu, adalah sebuah kata yang aku suka untuk pelipur lara
Menunggu. Kata orang itu sesuatu yang pilu. Pengiris harapan menjadi semakin tipis. Penunda temu atas rindu yang menggebu.
Dan kamu tahu? Bagiku tak begitu.

Menunggu adalah satu-satunya jawabanku. Tentangmu, harapanku yang satu.
Jadi ketika seluruh semesta menggugat betapa pahit kata itu, mengumpat betapa menyedihkan apa yang terlihat, hingga berakhir luruh berlutut pada sebuah keinginan untuk berputus asa dan tak lagi berharap banyak, aku hanya tersenyum.
Menunggu adalah satu-satunya cara bagiku. Untuk mengabulkan sebuah cemas yang begitu rapi tersisip di setiap doa. Ya, tentang kamu.

Kubaca lagi betapa tak kuasa dan penuh air mata ketika relativitas waktu membuktikan perannya. Menyendat waktu. Memperlama hitungan detik. Meski sebenarnya segala angka-angka itu berperan sama setiap harinya. Tak berubah kecuali rasa yang mempersepsinya sendiri.
Lagi-lagi aku tersenyum.

Bagiku menunggu adalah teman baikku. Mengajari setiap jengkal kesabaran yang tak memiliki batas akhirnya. Mengajari menutup cemburu dengan rupa-rupa senyum bahagia. Bukan dusta, hanya untuk memperbaiki performa rasa dalam jiwa. Mengajari menerima apa yang tak sanggup diusahakan dengan daya upaya. Mengajari melihat doa berpilin, melayang menuju angkasa, menemui Tuhannya.
.

Dua Pilihan


Pada akhirnya kita memang dihadapkan pada dua pilihan, menunggu atau pergi berlalu?
Tak terkecuali saya, situasi di mana kita harus jeli untuk lebih memilih hati atau pikiran bahkan memilih untuk menyeimbangkan keduanya.

Ada satu hal yang membuat kita memilih untuk menunggu, biasanya karena seseorang yang kita cinta, seseorang yang sama kamu rindukan tiap harinya. Satu hal yang lainnya adalah hati. Hatimu apa kabar? Akankah terus baik-baik saja saat kau memutuskan untuk menunggu? Saya pikir hati takkan pernah baik-baik saja saat keputusan itu diambil, entah dalam waktu lama atau sebentar. Karena banyak alasan, pernah tahu mencintai dengan diam? Mencintai dari jauh? Mencintai karena alasan-alasan tak tentu? Memang, takkan pernah ada satu alasan pun kenapa mesti cinta.

Pergi berlalu pun seperti menunggu, hati terpaksa merawat sendiri lukanya. Dengan merelakan segala yang pernah kita anggap sebuah pertemuan menjadi sebuah kehilangan yang percuma. Karena tak sekali pun ada rasa yang demikin juga dirasa olehnya. Bukan begitu? Tapi kau tahu bukan, kalau sebuah kehilangan adalah awal dari menemukan yang lainnya. Sekiranya hatimu sesaat terhempas, sakit memang. Namun pada akhirnya, akan ada seorang dia yang membantu merawat lukamu sampai sembuh, sampai benar-benar sembuh.

Lagi-lagi, mengikutsertakan Tuhan dalam setiap perkara hati memang kunci. Karena kamu bisa lebih tahu mana benar mencintai atau mengagumi. Dengan sendirinya, Tuhan akan kasih pengertian itu untukmu. Juga tak melulu memelihara ego sehingga ia tumbuh besar di dirimu. Seperti, kamu memutuskan untuk menunggu tapi tanpa tahu baru saja kamu menyakiti dirimu sendiri untuk kesekian kali. Padahal kamu harusnya sadar, jangan sampai orang yang kamu abaikan sekarang adalah sosok yang kamu cari dan ingini selama ini. Jangan sampai.

Perihal Menunggu


Bila memang kita sedang menunggu ia yang katanya terbaik untukmu, biarlah kita menunggu dengan sebaik-baiknya menunggu. Dengan mencari sebanyak-banyak ilmu tentang hakikat menunggu, memahami sebanyak-banyaknya nasihat tentang yang baik bagi yang baik. Melapangkan dada selapang-lapangnya tentang siapapun yang didatangkan Tuhan pada kita.

Bila memang kita sedang menunggu dia yang katanya akan menyayangimu sepanjang hidupnya. Mari kita mencari-cari perhatian Tuhan, bukan mencari perhatian dari selain Tuhan. Biar Tuhan tau bahwa kita sedang menjadi yang baik, biar Tuhan amat yakin bahwa kita sedang berjuang untuk hamba-Nya yang baik.

Bila memang kita sedang menunggu ia yang akan setia memayungi kita kala hujan dan terik datang. Biarlah kita selalu terjaga, terjaga untuk selalu berdoa pada Tuhan agar kita segera diselamatkan Tuhan dari jatuh yang terlalu pada orang yang salah, diselamatkan Tuhan dari percaya yang terlalu pada kata-kata yang tak pernah ditepati, diselamatkan Tuhan dari patah yang sampai membuat kita lupa pada Tuhan.

Bila memang kita sedang menunggu yang baik, biarlah kita menjadi baik bukan untuk siapa-siapa. Tapi untuk Tuhan, agar Tuhan tersenyum bahagia saat mendatangkan yang baik pada kita.

Pada Akhirnya......




Kamu masih menjadi raja, duduk di singgasana yang kubangun dari sesuatu bernama cinta. Dan rupanya, cemburuku mengawalmu dengan setia, mengikuti ke mana kamu melangkahkan kaki. Aku hanya jelata, melayanimu demi secawan temu penawar rindu.

Lelahku jangan ditanya. Rinduku bukan satu-dua. Ia tak terhingga, memenuhi ruang di kepala, menyesakkan rongga dada. Melayanimu, aku inginnya berhenti saja, membiarkan rindu berdiam di sana; di kepala dan rongga dada. Namun sayangnya, ia semakin berkuasa. Ditanamkannya luka untuk setiap rindu yang tak terbayar. Bukan main sakitnya. Tak berdaya aku dibuatnya.

Pernah aku mencoba, menuliskan rindu-rindu itu pada lembaran-lembaran, lalu kuterbangkan. Barangkali ia hendak berpindah tujuan. Tapi nyatanya, hingga aku jemu, rinduku tetap memilihmu.

Katakan rinduku tak tahu diri, menginginkanmu yang terlalu tinggi. Siapa yang akan peduli? Aku? Tidak sama sekali. Percuma saja, karena pada akhirnya, hingga aku membenci diri sendiri, rindu untukmu masih enggan pergi.

Rindu?


Rasanya setiap hari ingin bercakap denganmu. Meluahkan segala rindu atas cinta yang tertahan. Menghilangkan segala gundah yang sesakan dada. Kau tahu, hampir mati hati berjuang bertahan memikul rasa ini.

Namun setelah dipikir lagi, inilah yang terbaik untuk kita, tetap diam memendam rasa, untuk kuat tak bertegur sapa, atau sekedar bertanya-tanya, untuk sesuatu yang tak perlu ditanya.
Karena jika memang berjodoh, ini akan jadi butiran noda, perusak cinta yang hati idamkan. Bukankah hati ingin cinta suci tanpa noda? Marilah simpan derap cinta ini hingga saatnya tiba. Saat bersama pasangan yang halal, entah bersamaku atau bersamanya..

Namun jika memang bukanlah jodoh, ini tetap akan jadi butiran noda. Perusak cinta yang dihalalkan. Mengusik ketentraman hubungan, bersama dia yang ditakdirkan..
Bisakah hati melupakan orang yang telah mencurinya?

“Kadang kau harus meneladani matahari. Ia cinta pada bumi; tapi ia mengerti; mendekat pada sang kekasih justru membinasakan"

Aku Jenuh Kawan


“Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu. Teruslah berlari hingga kebosanan itu bosan mengejarmu. Teruslah berjalan hingga keletihan itu letih bersamamu. Teruslah berjaga hingga kelesuan itu lesu menemanimu. Dan teruslah berjuang, hingga kejenuhan itu JENUH memerangimu!”

Saat kau tak ada di sampingku kala aku tengah tersengal-sengal berjalan, aku takkan marah padamu, kawan. Saat aku tengah letih melanjutkan perjalanan hingga akhirnya aku memilih berdiam sejenak, aku takkan menuntutmu untuk bergerak membantuku, minimal memberikan aku makan ataupun minum penghilang rasa letih ini, aku takkan menuntut itu, kawan.
Tapi kala aku berdiam senejak, aku merasakan kejenuhan, kawan. Aku jenuh dengan perjalanan ini. Jalanan ini terlalu sepi, jalanan ini gersang, tak kutemui ada pohon rindang di sepanjang jalan ini, dimana aku bisa sekadar duduk merasakan semilir angin sejuk di sana. Padahal matahari sedang terik-teriknya sejak kumulai perjalanan ini. Aku menghela nafas. Kulanjutkan perjalanan ini dengan langkah gontai.

Lalu, kurasakan ada aliran hangat di kedua pipiku.
Aku berjalan. Aku berjalan dan kadang menoleh kebelakang, berharap kutemui kau menyusulku. Tapi nihil, kawan. Aku kembali menghela nafas. Aku bergumam dalam hati, “Tenang kawan, aku mengerti. Kau orang yang sibuk, lebih sibuk dariku. Kau punya amanah dimana-mana.” Aku tersenyum sambil menyeka aliran hangat yang sedikit mengering di kedua pipiku.
Aku takkan memaksamu untuk peduli padaku. Aku takkan memaksamu berjalan bersamaku. Karena aku pun tahu, jalan ini tak enak. Jalan ini sungguh tak enak. Bagaimana mungkin aku memaksamu, sedang aku terus-terus merasakan kejenuhan di jalan ini. Kau pun pasti mengerti, jika saja jalan ini enak, sudah pasti banyak yang kan melewatinya. Jalan ini takkan sepi jika saja ada kau di sini, kan? Tapi, itu hanya sekadar harapku.

Takkan kupaksa kau berletih-letih di jalan ini. Kan kubiarkan kau memilih jalan yang kau sukai. Asalkan, kau lalui jalan itu dengan sabar dan semangat tak kenal jenuh. Tapi jika kau jenuh, kau boleh sesekali mengabarkan padaku. Aku pasti akan ada, menjadi tempat sandaranmu kala kau butuh tempat bersandar untuk sekadar melepas kejenuhanku.

Perihal Jodoh


Jangan memutuskan untuk tidak menikah lantaran pernah merasa tersakiti oleh seseorang yang dulu pernah kau cintai. Kau tidak pantas menghukum dirimu sendiri dengan trauma berkepanjangan. Buka mata, hati, telinga dan pikiranmu, biarkan Dia mengirim hidayahNya padamu untuk menyembuhkan luka hati serta membuatmu kembali berpijar. Tuhan “mengikuti” prasangka hambaNya, jadi aku harap kau tak berprasangka buruk kepadaNya. Jodoh terbaikmu ada, jika kau berdoa dan yakin pada doa yang kau panjatkan padaNya.

Jangan pesimis kemudian larut dalam keputusasaan bila selama ini kau sudah berkali-kali gagal dalam membina hubungan dengan seseorang. Karena biasanya dalam sebuah film, yang baik dan tidak berputus asa akan selalu menang di ending cerita, dan di dunia nyata itupun berlaku. Jadi, bersabarlah tanpa pernah berputus asa. Tuhan menyayangimu lebih dari yang kau tahu.

Jangan dulu untuk memutuskan jatuh cinta kepada seseorang hanya karena alasan “nyaman”, sebab yang membuatmu “nyaman” belum tentu bisa membimbingmu ke jalan lurus yang di Ridha-i Tuhan-mu. Jatuh cintalah pada dia yang mencinta Tuhan-mu, jangan paksa dirimu untuk mengendalikan hatimu (sebab kau tak akan mampu) kita hanya manusia biasa yang setiap detik selalu membuat kesalahan, hati kita lemah dan selalu berubah-ubah. Biarkan Tuhan-mu yang mengatur, membimbing dan menjatuhkan hatimu pada seseorang yang shaleh menurutNya, dan bukan menurut standar-mu.
Kebaikan selalu ada bagi dia yang percaya dan yakin pada apa yang dia percayai. Akhiri kisah perjalananmu dengan kebahagiaan yang baik dan membaikan, jangan akhiri ujung ceritamu dengan penyesalan.

Kamis, 03 Maret 2016

Kelak Aku


Kelak akan kau jumpai aku yang jenuh pada tunggu dan waktu yang akan memberitahumu tanpa aba-aba terlebih dahulu.

Bagaimana bahagiamu? Sudahkah dia hadir-kau hadirkan di hidupmu? Aku melihatnya di senyummu. Tetapi aku masih aku yang dulu, kamu. Yang masih saja sulit membedakan mana kamu yang bahagia, dan mana kamu yang terlihat bahagia. Aku hanya merasakan auramu, kamu.
Bagaimana kabarmu? Melihatmu masih dapat tersenyum, aku dapat mengetahui kamu sedang baik. Tetapi untuk baik-baik saja, aku belum bisa mengetahuinya dengan pasti.
Aku masih penuh dengan prasangka, ya? Percayalah aku selalu mencoba menghilangkan dan mencari alasan alasan positif atas semuanya. Terutama kendali atas perasaanku sendiri.
Aku mungkin masih menunggumu. Aku hanya merasa bohong saja ketika aku berkata aku sudah berpaling. Karena kenyataannya, ya aku masih disini.
Kamu tau, aku sedang menunggu jenuh ku. Semoga dia datang tepat waktu. Tidak perlu secepatnya. Karena apa yang aku pikir buruk, belum tentu buruk menurutNya. Menunggu jenuh untuk menunggu. Menunggumu. Aku lucu ya? Seakan aku berharap untuk segera dipalingkan ke hati yang lain.
Dan kamu perlu tau, waktu yang tepat untuk jenuh akan datang tanpa aba-aba. Yang membuatku dapat segera *puff, menghilang dari tempat duduk manisku, tempatku menunggumu. Aku tidak peduli lagi, apakah kau akan datang meskipun terlambat. Karena aku sudah jenuh saat itu.
Mungkin. Hanya mungkin. Karena aku masih perempuan yang dapat dengan mudah luluh. Tolong, jangan kau anggap remeh soal tunggu-menunggu ini. Apa hanya karena kamu lelaki sehingga kamu dapat mendatangi semua pintu yang kamu inginkan?
Dan jangan lupa kemungkinan bahwa perempuan juga dapat benar-benar jenuh. Aku juga dapat benar-benar jenuh. Semoga kamu siap. Dan jatuhlah pada pintu-pintu yang kau ketuk. Datangi dia, rangkai cerita dan mungkin kamu lupa pernah memintaku menunggu. Tidak apa. Toh saat itu aku sudah jenuh.

Rabu, 02 Maret 2016

Sang Pemilik Senja


Tak selamanya senja milik jingga, karena ada kalanya senja itu kelabu, jadi siapa pemilik senja itu? pemillik senja adalah semesta, karena saat senja menjadi jingga atau kelabu, semesta selalu setia menemaninya.
Sama seperti kita, aku adalah semesta, kau adalah senja yang menghangatkan, dan dia adalah jingga yang terkadang mengindahkanmu.
Jenuh, lima huruf yang penuh dengan kebingungan, kamu tahu? saat jenuh datang, kan ada yang tersakiti dan ada yang tersenyum gembira, semesta terasa tersakiti saat senja lupa akan semesta, pemilik senja yang sebenarnya, sedangkan jingga? dia kan senang saat dekat dengan senja, karena saat senja berwarna jingga, ada keindahan yang tercipta, sampai senja pun lupa siapa pemiliknya yang sebenarnya.
Saat senja terhalang awan mendung, siapa yang setia menemani senja? saat senja tertutup kabut, siapa yang berusaha memohon kepada matahari agar menerangkan senja? siapa? semua tahu jawabannya, tapi kenapa? kenapa saat semesta berusaha dengan penuh untuk menjaga senja, saat itu senja malah begitu asik dengan jingga?
Senja, kau menghangatkan, kini kau sedang bersinar indah bersama jingga, bersenang senanglah, tapi saat keindahanmu menjadi kelabu, semesta yakin senja akan pulang, karena semesta adalah tempat senja pulang.
Senja berbahagialah bersamanya, jingga sang pengindah senja, semesta kan menunggu walau harus teracuhkan.

Selasa, 01 Maret 2016

Perihal Diam


Mataku diwarisi basah oleh diammu. Ia lelah mencari celah untuk tahu kedalaman hatimu. Serupa percuma, sebab aku bukan cenayang yang bisa tahu tanpa kamu bercerita dengan runut satu-satu.

Pertemuan adalah gerbang. Katamu. Kau akan mengajakku masuk untuk melihat semuanya tanpa ada lagi rahasia. Aku khawatir. Kalau-kalau, kau pikir, menemuimu tak pernah mampir di kepalaku.

Aku rengkah dengan kedalaman yang sama, sebab diammu yang juga sama. Kekasih, beratkah berkata sudah? Enggankah berkata tolong betah? Bagimu, sulitkah untuk berhenti membuatku regah?
Banyak yang ingin aku tanyakan. Meski tak yakin semuanya akan bermuara pada sebuah jawaban; meski nanti akhirnya takdir kita adalah dipertemukan.

Mungkin aku yang salah. Terlalu dalam tenggelam pada dadamu yang hingga kini bagiku masih terasa kelam. Aku minta maaf, sudah menitipi pundakmu dengan harapan yang terlalu tinggi. Kepalamu pasti pusing sekali.

Kali ini jangan berkata tidak apa-apa! Katakan kau tidak suka dan ingin aku pergi saja.