Jumat, 20 Mei 2016

Aku Pergi



Setelah percaya bahwa tak ada satu daun pun yang jatuh yang luput dari kesaksian Allah, akhirnya aku memahami bahwa semua yang terjadi sejatinya memang sudah diatur. Segalanya terjadi pada kesempatan yang tepat. Tidak pernah terlalu cepat, tidak pernah terlalu lambat. Begitupun saat dulu kita bertemu untuk pertama kalinya, aku yakin bahwa Allah telah mengaturnya sedemikian rupa.

Dulu kita hanya saling tahu nama dan rupa, tanpa pernah saling bertukar sapa dan bertatap wajah. Kita seperti dua buah kapal laut yang mengarungi laut yang sama, tapi tak pernah saling mendengar suara. Begitu seterusnya sampai waktu mengantarkan kita mendewasa, dan pada akhirnya saling sapa. Sapa yang kemudian mendatangkan rasa. Apa namanya? Cinta? Ah, terserahmulah!

Bagaimanapun juga, aku adalah seorang perempuan. Hatiku rentan tertawan, dan kamu memang menawan. Aku kemudian lupa pada logika. Lama-kelamaan, diantara obrolan-obrolan panjang, terselip perkataan-perkataan yang belum seharusnya dikatakan.

Pada sebuah titik balik, akhirnya aku disampaikan Allah pada suatu tempat bernama kesadaran. Hey, kita melakukan apa selama ini?

Aku sadar, bukan ini yang seharusnya kita jalani. Aku berpikir dan menghabiskan waktu yang lama untuk mengumpulkan keberanian. Sudah kubilang, perempuan itu rentan. Ah, salah kita memang yang menjadikan semua ini seperti kebiasaan yang begitu terkondisi. Seperti poros yang bergerak dengan cepat, kita pun menjadi sulit untuk melompat keluar. Tapi, akhirnya aku memilih untuk benar-benar melompat, meski jatuh!

Sekarang, dengarkanlah!

Aku pergi bukan karena benci, atau sok suci. Aku hanya ingin menyelamatkanmu. Allah memberi kita satu hati yang istimewa. Aku tak ingin kita mengotorinya dengan rasa-rasa tak bernama yang belum pantas kita bagi sekarang.

Aku pergi bukan karena benci, atau sok suci. Aku bukan tak ingin memilihmu. Tapi, aku tak ingin melakukannya sekarang. Aku tak ingin membuat keputusan-keputusan permanen di saat-saat yang belum seharusnya. Aku ingin memutuskannya nanti saja, agar Allah mencatatnya menjadi halal yang membuahkan kebaikan-kebaikan.

Aku pergi bukan karena benci, atau sok suci. Aku hanya ingin menunggu dalam ketaatan, hingga nanti sampai pada ikatan suci.

Semoga Allah memaafkan kita yang sempat khilaf dan sok tau menentukan arahan sendiri.

Bagiku, penghargaan terbaik adalah ketika dipahami tanpa dihakimi. Terimakasih telah mencoba mengerti sampai akhirnya memahami. Semoga Allah menjadikan kita mampu menunggu dalam taat. Satu yang tak pernah kita tahu, kita tak pernah tahu dengan siapa kita akan hidup berdampingan. Karenanya, taat dan bersiaplah karena Allah, bukan karena aku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar